Memaparkan catatan dengan label agama. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label agama. Papar semua catatan

Panduan Memilih Isteri Gaya Islam



“Apalah perempuan, tak pandai masak siapa nak kahwin dengan awak!” Begitulah kata-kata yang biasa kita dengar saban hari.

Maka jawaplah si gadis ayu itu yang dia tidak sempat belajar memasak sebab dari kecil tidak digalakkan keluarga sebaliknya di suruh menumpukan perhatian pada pelajaran saja. Setelah tinggal di asrama, peluang pulang ke rumah terhad dan tidak sempat turun ke dapur membantu ibunya.

”Habis sekarang kenapa tidak belajar?” Tanya sang lelaki lagi dengan penuh semangat.


”Sedang belajarlah ni tetapi selain sibuk dengan kerjaya saya juga sibuk belajar agama, jadi belajar memasak tetap tidak diutamakan!” Begitu jawab si gadis yang membuatkan lelaki tadi menggeleng-geleng kepala.

Mana yang betul antara ciri-ciri memilih isteri mengikut garis panduan masyarakat/selera perut @ mengikut panduan AGAMA ISLAM?

Masyarakat kita semakin hari semakin keliru dalam memilih pasangan. Sama ada yang wanita mahupun yang lelaki. Rata-rata semakin membina tembok pemisah antara agama dan kehidupan. Sedangkan Islam itulah cara hidup kita.. AlQuran & hadith itulah manual pengguna utk kita menjalani hidup sehari-hari.

Dalam persoalan ini, apabila seorang pemuda telah menemukan atau hendak menemukan seorang calon isteri yang dipandangnya sepadan dan berkenan di hati, hendaklah ia memeriksa sifat yang terpuji dan kriteria pegangan agama yang ada padanya. Janganlah kita hanya memfokuskan semata-mata kepada karektor duniawi, kekayaan, kecantikan, kedudukan atau mesti pandai memasak. Kerana di dalam suatu hadis Rasulullah s.a.w., seseorang wanita itu sebaiknya dipilih untuk dinikahi adalah kerana berdasarkan agamanya yang baik dan bukannya karena pandai memasak

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena kedudukannya/ keturunannya, karena kecantikannya dan keranan agamanya. Maka, pilihlah yang baik agamanya niscaya engkau beruntung.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/242), Muslim (2/1086), Abu Dawud (2047), an—Nasaa’i (6/68) dan Ibnu Majah (1858))

Secara umumnya, mereka yang baik agamanya dan lebih taqwanya adalah mulia dan dipandang tinggi di sisi Allah s.w.t.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia d iantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu…” (al-Hujuraat 49: 13)

Tak ada pun kata mesti pandai memasak… betul tak?

Dengan merujuk pula kepada firman Allah s.w.t. berikut:

“Maka wanita yang solehah, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara dirinya (kehormatannya) ketika suaminya tiada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (Surah an-Nisaa’ 4: 34)


Sufyan ats-Tsauri berkata (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsirnya (5/38) dengan sanad yang shahih): Kalimah “Qaanitaat” membawa maksud wanita yang taat kepada Allah dan kepada suaminya.”

Nabi pernah ditanya tentang sebaik-baik wanita, yang mana Baginda bersabda:

“Iaitu yang taat apabila diperintah, yang menyenangkan apabila dipandang serta menjaga diri dan harta suaminya.” (Hadits bertaraf sahih, diriwayatkan oleh imam Ahmad (4/341))

Bertepatan dari anjuran hadis Rasulullah ini, maka keutamaan kita dalam memilih calun isteri adalah menjurus kepada wanita yang baik urusannya dalam menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya, sama ada ketika berada di sisi suami, keluarga ataupun di ketika waktu ketiadaan suaminya, secara zahir dan batin yang didasari hati yang bersih serta suci lantaran kesan pegangan agamanya.

Dari kalangan tabi’in, Qatadah bin Di’aamah As-Saduusi pula berkata: “(Wanita yang sepatutnya menjadi pilihan) Adalah yang menjaga apa-apa yang telah Allah serahkan agar dijaga dari hak-hak suaminya. Menjaga dirinya saat suaminya tidak berada di sisinya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (5/39) dengan sanad yang shahih)

Telah disebutkan di atas tentang sifat sebaik-baik wanita iaitu,

“Serta menjaga diri dan harta suaminya.”

Abdullah bin Amru r.a. berkata: “Mahukah kalian aku beritahu tentang tiga jenis manusia yang celaka:


Imam yang zalim, bila engkau berbuat baik kepadanya ia tidak berterima kasih, jika engkau berbuat salah kepadanya ia tidak memaafkan.
Tetangga/jiran yang jahat, jika ia melihat kebaikan padamu ia tutup-tutupi, jika melihat keburukan padamu ia menyebarkannya.


Isteri yang buruk tabiatnya, jika engkau berada di sisinya ia membuatmu gusar/tidak senang. Dan bila engkau tidak berada di sisinya ia berkhianat.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf (3/559) dengan sanad yang shahih)

Seterusnya, carilah wanita yang memiliki sifat-sifat yang penyayang. Semua ini mampu memberi infect atau kesan yang baik kepada anak-anak kelak serta kepada hati suami yang utamanya. Dalam hal ini,

Nabi s.a.w bersabda: “Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, kerana aku akan berbangga dengan jumlah kalian yang banyak di hadapan umat-umat lain pada hari Kiamat.” (Hadis Sahih, diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdaadi dalam Tarikh Baghdad (12/377))

“Sebaik-baik wanita yang menunggang unta adalah wanita-wanita yang solehah dari suku Quraisy, mereka adalah wanita yang paling sayang kepada anak-anak sewaktu masih kecil dan yang paling menjaga hak dan harta suami.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhaari (3/240))

Seterusnya, carilah wanita yang memiliki sifat-sifat yang penyayang. Semua ini mampu memberi infect atau kesan yang baik kepada anak-anak kelak serta kepada hati suami yang utamanya. Dalam hal ini,

Nabi s.a.w bersabda: “Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, kerana aku akan berbangga dengan jumlah kalian yang banyak di hadapan umat-umat lain pada hari Kiamat.” (Hadis Sahih, diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdaadi dalam Tarikh Baghdad (12/377))

“Sebaik-baik wanita yang menunggang unta adalah wanita-wanita yang solehah dari suku Quraisy, mereka adalah wanita yang paling sayang kepada anak-anak sewaktu masih kecil dan yang paling menjaga hak dan harta suami.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhaari (3/240))

Dari sudut ini, kelangsungan hidup manusia dan generasi soleh/solehah akan dapat diteruskan melalui kelahiran zuriat-zuriat yang baik. Lantas, dari zuriat yang soleh/solehah (muslim ini) ia berupaya untuk menjaga aspek keturunan dari generasi ke generasi untuk membentuk masyarakat yang menegakkan syari’at Allah, meninggikan agama, memakmurkan alam semesta, dan memperbaiki kehidupan di muka bumi. (Rujuk: Menjaga Kehormatan Muslimah, sheikh Bakr Abdullah Abu Zaid, Daar an-Naba’, m/s. 150-151)

“Dan para wanita itu mempunyai hak yang seimbang seperti kewajiban yang ditanggung oleh mereka (terhadap suami) dengan cara yang ma’aruf (dan tidak dilarang oleh syara’); Dalam pada itu orang-orang lelaki (suami-suami itu) mempunyai satu darjat kelebihan atas orang-orang perempuan (isterinya). Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah 2: 228)

Melalui ayat ini, dapat kita simpulkan bahawa terdapat hubungan antara kelebihan kaum wanita dengan kekuatan kaum lelaki sehingga keduanya akan saling melengkapi dengan masing-masing diberikan keistimewaan, keutamaan, dan tanggungjawab masing-masing.

Akhir sekali, suatu yang perlu di-ambil perhatian. Bahawasanya Allah dan Rasul-Nya melarang lelaki ataupun sebaliknya untuk menikahi atau mengahwini pasangan yang terdiri dari kalangan penzina. Tetapi pilihlah wanita yang mulia, suci dan terjaga kehormatannya sebagaimana yang dinyatakan di awal tulisan ini tadi,

“…yang ta’at kepada Allah lagi memelihara dirinya (kehormatannya) .” (an-Nisa’ 4: 34)

Persoalan ini juga dijelaskan oleh Allah s.w.t. sebagaimana di dalam firman-Nya yang berikut:

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (an-Nuur 24: 3)

Dalam suatu riwayat, sebelum turunnya ayat ini seorang sahabat bernama Abu Martsad al-Ghanawi r.a. datang menemui Rasulullah s.a.w. meminta restu/keizinan untuk menikahi seorang wanita pelacur yang dahulunya semasa jahiliyyah adalah bekas kekasihnya (wanita itu bernama ‘Anaq). Dan sehinggalah turunnya ayat di atas (Surah an-Nuur 24: 3) Rasulullah s.a.w. menjelaskan “Jangan dinikahi wanita itu!” (Diriwayatkan oleh imam yang empat kecuali Ibnu Majah)

Ini antaranya adalah kerana wanita penzina dan pelacur itu boleh mengganggu urusan kebahagian sesebuah rumahtangga dan institusi kekeluargaan pasangan suami isteri. Malah status pelacur/penzina ini sendiri menurut Ibnu Umar r.a. adalah merupakan antara manusia yang celaka sebagaimana riwayat ini (telah dijelaskan di awal tulisan), “wanita yang apabila engkau tidak berada di sisinya ia berkhianat.”

Manakala menurut Hasan al-Basri rahimahullah; “Tidaklah halal dinikahi wanita penzina dan wanita simpanan.” (Diriwayatkan oleh Sa’id bin Mashur dalam as-Sunan (5/8) dengan sanad yang sahih)

Adapun begitu, andainya dia (wanita yang awalnya seorang penzina) merupakan dari kalangan wanita yang sudah bertaubat dan sudah meninggalkan perbuatan pelacuran, maka keharaman itu terhilang dan termansuh sebagaimana menurut Abdullah bin Abbas r.a.: “Awalnya zina akhirnya nikah, awalnya haram akhirnya halal.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/529) dengan sanad yang sahih)

Dan daripada firman Allah s.w.t.:

“…kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nuur 24: 5)

Shilah bin Asyyam rahimahullah berkata: “Tidak mengapa menikah keduanya samaada wanita atau pemuda dengan penzina yang telah bertaubat kepada Allah. Allah lebih berhak menerima taubat keduanya. Jika keduanya adalah penzina dan belum bertaubat, maka lelaki yang buruk pasangannya juga adalah dengan wanita yang buruk pula. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi syaibah (3/528) dengan sanad yang sahih)

Sebagai kesimpulan, membuat pilihan calon isteri bukanlah suatu perkara yang boleh dipandang remeh. Ia amat berat pada hakikatnya kerana ia bakal menjaga urusan dalam kekeluargaan yang diketuai oleh seorang lelaki bernama suami. Dan bakal menjadi pembimbing anak-anak atau zuriat yang kelak bakal dilahirkan. Kriteria-kriteria yang baik berserta kebijaksanaan dalam pelbagai bidang ilmu tertentu dan persoalan keagamaan perlu dilihat sebagai keutamaan supaya segala perjalanan kehidupan di masa mendatang bakal ter-urus dengan baik dan tersusun. Supaya kelak, kehidupan anda bersama keluarga bakal mengecapi suasana yang aman bahagia dan tenteram. Lantas mampu melahirkan masyrakat yang berhubungan dengan harmoni.


Antara ciri-ciri yang lain bagi calon isteri yang baik secara umum adalah seperti berilmu, sentiasa bersyukur, tahu menjaga hubungan yang baik dengan kaum keluarga kedua belah pihak, memiliki daya kepimpinan terhadap pengurusan rumahtangga dengan baik, memahami kehendak/keperluan suami, batas pergaulannya terjaga, dan sentiasa menjaga penampilan yang baik.

“Kebahagiaan manusia ada tiga: Wanita yang solehah, tempat tinggal yang baik, dan kenderaan yang baik. Sedangkan kesengsaraan manusia ialah: Wanita yang buruk (perangainya) , tempat tinggal yang buruk, dan kenderaan yang buruk.” (Hadis Riwayat Ahmad (1/168), dengan sanad yang sahih)

Dan mereka berkata (berdoa): “Wahai Tuhan kami, anugerahilah kepada kami isteri-iesteri kami dan zuriat keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa. (al-Furqan 25: 74)

Dan sebaik-baik wanita itu adalah mereka yang soleh dalam agamanya, sebagaimana hadis berikut:

“Dunia itu seluruhnya adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang solehah.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab ar-Ridha) – Rujukan
Baca Lagi

Kisah Menarik! Yahudi Masuk Islam Kerana Keadilan Seorang Hakim



Satu kisah menarik seorang yahudi telah masuk islam setelah dia mendapati islam menyuruh umatnya bersikap adil, terutama seorang hakim yang mengadili antara dua orang yang bersengketa, mestilah bertindak adil tanpa berat sebelah walaupun hukuman yang hendak dijatuhkan itu melibatkan seorang khalifah atau ketua negara.

Saiyidina Ali ibnu Abi Talib k.w seorang khalifah islam yang ke-4 sesudah wafat Rasulullah s.a.w tergolong sebagai khulafa’ Rasyidin.Beliau adalah sepupu Rasulullah s.a.w dan juga menantu kepada baginda.Beliau memerintah Madinah pada tahun 35 hingga 40 hijrah bersamaan 656 hingga 661 masihi.

Baju besi khalifah Saiyidina Ali telah hilang didalam peperangan Siffin,Beberapa hari kemudian Ali melihat baju itu dipakai oleh seorang yahudi. Ali minta baju itu dipulangkan kepadanya. “ ini milik saya”, kata Saiyidina Ali.” Tidak baju itu milikku sejak dulu”. Jawab yahudi. Keduan-duanya bertengkar. Masing-masing mengaku haknya. Akhirnya mereka berdua bersetuju menemui Hakim Syuraih untuk membuat keputusan.

“ yang Arif Tuan Hakim! Baju besi yang dipakai oleh orang ini adalah kepunyaanku.Ia hilang daripada tanganku didalam peperangan Siffin yang lalu”’,kata Khalifah Ali kepada Hakim.”Bagaimana dengan kata-kata Amirul mukminin?.”T anya Hakim kepada kepada yahudi itu.

“ Tidak tuan.Baju itu milik saya”.jawab Yahudi dengan sungguh-sungguh.Wahai Amirul Mukminin! adakah tuan ada saksi yang membenarkan baju ini kepunyaan tuan ?”.”Ada,Tuan Hakim.Puteraku Hassan dan Husain tahu,baju ini milik saya.” jawab Khalifah.” saksi anak sendiri untuk bapanya tidak boleh diterima menurut hukum Islam yang ada”.Kata hakim sambil menggeleng-geleng kepalanya.Yahudi mula tersenyum mendengar kata-kata ini.


Akhirnya Hakim Syuraih menjatuhkan keputusan, bahawa baju besi itu kepunyaan si pemakainya.Betapa gembiranya yahudi dengan keputusan itu.Dia sangat kagum atas sikap Hakim Syuraih yang menghukum dengan adil tanpa merasa takut terhadap seorang Khalifah.Sementara Khalifah Saiyidina Ali k.w menerima keputusan hakim dengan tenang. Lalu baginda menghampiri yahudi itu.

“ Maafkan saya,tuan,” ujar Saiyidina Ali kepada yahudi dengan lembut sambil menghulurkan tangan berjabat salam. Hakim Syuraih tersenyum menyaksikan peristiwa itu. Orang yahudi itu kagum dengan dan terharu dengan sikap Saiyidina Ali.Ketika ini tanpa disedari air matanya membasahi pipi. Lalu dia pun memeluk Khalifah Saiyidina Ali dengan suara tersekat-sekat.

Sepatutnya tuan boleh merampas baju saya ini.Tetapi , tuan tidak lakukan. Sebaliknya tuan sanggup berjumpa hakim untuk menegakkan keadilan.” ujarnya sambil mengesat airmata.” Yakinlah saya sekarang, islam adalah agama yang terbaik…,”jelas yahudi itu dengan sungguh-sungguh. Dan pelukkanya semakin bertambah erat. Ali pun merasa terharu sambil mengusap-usap belakang yahudi.Beberapa detik kemudian,orang yahudi itu dengan kerelaan hatinya memeluk agama Islam didepan Khalifah Saiyidina Ali dan Hakim Syuraih.

Detik Islam
Baca Lagi

Jangan Engkau Kahwini 6 Golongan Wanita Ini



Pesanan Rasulullah saw untuk kaum Lelaki : "Jangan engkau kahwini wanita yang enam, jangan yang ananah, yang mananah, dan yang hananah dan jangan engkau kahwini yang hadaqah, yang basaqah dan yang syadaqah".

1. Wanita Ananah : wanita yang banyak mengomen itu dan ini. Apa yang diberi atau dilakukan suami untuk rumahnya tangga semua tidak kena dan tidak berpuas hati.

2. Wanita Mananah : wanita sebegini yang menidakkan usaha dan jasa suami sebaliknya mendabik dada dialah yang banyak berkorban untuk membangun rumah tangga. Dia suka mengungkit-ungkit apa yang dilakukan untuk kebaikan rumah tangga. Biasanya wanita ini bekerja atau berkedudukan tinggi dan bergaji besar.

3. Wanita Hananah : Menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain, yang dikahwininya sebelum ini atau kepada anaknya dari suami yang lain dan wanita ini berangan-angan mendapatkan suami yang lebih baik dari suami yang sedia ada. Dalam kata lain wanita sebegini tidak bersyukur dengan jodohnya itu. Wanita sebegini yang mengkufuri nikmat perkahwinan. Dia juga merendahkan kebolehan dan kemampuan suaminya.

4. Wanita Hadaqah : melemparkan pandangan dan matanya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya utk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya selain itu wanita ini suka ikut nafsunya. Wanita sebigini memeningkan kepala lelaki. Dia tenguk apa saja dia mahu. Dia suka membandingkan dirinya dengan diri orang lain. Suka menunjuk-nujuk. Wanita inilah yang menjadikan suami dulu handsome sekarang sudah botak.

5. Wanita Basaqah :

ada 2 makna:

Pertama wanita sebegini yang suka bersolek dan menghiaskan diri. Dia menghias diri bukan untuk suaminya tetapi untuk ditunjuk-tujukkan kepada dunia. Suka melawa. Wangnya dihabiskan untuk membeli make-up, kasut dan barang kemas. Wanita begini juga suka dipuji-puji. Kalau dia kebetulan menjadi isteri orang ternama dan menjadi pula ketua dalam kumpulan itu, orang lain tidak boleh mengatasi dirinya.

Kedua dia marah ketika makan dan tidak mahu makan kecuali sendirian dan diasingkannya bahagiannya.

6. Wanita Syadaqah : banyak cakap, tidak menentu lagi bising. Kebecokan itu juga menyebabkan segala kerja yang dibuatnya tidak menjadi, hanya tukang sibuk dan komen saja.

sumber
Baca Lagi

Kisah Benar- Berlaku Di Gombak, Mayat Tidak Diterima Bumi


Surau saya pernah menjemput Al-Fadhil Ustaz Abu bakar Abdul Aziz untuk menyampaikan ceramah Maulidur Rasul. Saya berkesempatan untuk berborak dengan beliau ketika kami sama-sama makan setelah selesai ceramah. Antara topik yang dibincangkan ialah pengalaman beliau ketika menguruskan jenazah.


Ia berlaku di kawasan daerah Gombak di mana jurumandi memandikan jenazah yang agak kaya orangnya dan berpengaruh. Begini ceritanya :-

Saya telah terlibat dalam pengurusan jenazah lebih daripada 20 tahun. Pelbagai pengalaman telah saya lalui kerana dalam tempoh itu bermacam-macam jenis mayat yang telah saya uruskan. Ada yang meninggal dunia akibat kemalangan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya.

Bagaimanapun, pengalaman menguruskan satu jenazah di sebuah tempat di sempadan Selangor dan Wilayah Persekutuan beberapa tahun yang lalu, telah mendedahkan saya kepada satu kes yang cukup ‘istimewa’ sepanjang pengalaman saya menguruskan jenazah. Inilah kali pertama saya bertemu dengan satu jenazah yang cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan sekali gus menberikan banyak iktibar.

Peristiwa tersebut berlaku dua hari lagi sebelum pilihanraya di Serkam, Melaka. Nama tempat dan nama orang yang meninggal itu tidaklah dapat saya nyatakan di sini. Ia terjadi secara kebetulan ketika saya diminta oleh anak Allahyarham menguruskan jenazah bapanya.

Pada hari itu, saya pergi ke rumah seorang sahabat untuk mengubatkan mata ibunya bagi kali yang terakhir. Niat saya ialah supaya mata ibu tadi sembuh dan boleh membaca Al-Quran. Tetapi apabila saya hendak pulang, anak Allahyarham datang menemui sahabat saya tadi dan bertanya sama ada saya mengurus jenazah atau tidak.

Kawan saya kata, “Cubalah tanya dia sendiri.” Kawan saya ada memberitahu saya dua bulan yang lepas bahawa saya sahaja yang mengadakan kursus dalam hal menguruskan jenazah. Anak Allahyarham menemui saya. Saya beritahu dia bahawa jenazah tidak elok dibiarkan lama-lama.

Saya terus pergi ke rumahnya. Tapi bila saya hampir sampai ke rumah Allahyarham, saya bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup pelik dan busuk. Saya telah menguruskan banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini.Bila saya tengok wajah Allahyarham, sekali lagi hati saya tersentuh. Saya tengok wajahnya seperti sedang dirundung oleh bermacam-macam perasaaan…takut, cemas, kesal dan bermacam-macam lagi. Wajahnya seperti tidak mendapat nur daripada Allah SWT.

Kemudian saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak Allahyarham dan saya potong-potongkan. Secara kebetulan pula, di situ ada dua orang yang mengikuti kursus pengurusan jenazah yang pernah saya jalankan. Saya ajak mereka membantu saya dan mereka bersetuju.

Tetapi semasa memandikan mayat itu, peristiwa pertama berlaku. Untuk makluman pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut urut untuk membolehkan najis keluar. Maka saya pun urut urutkan perut Allahyarham.

Tapi apa yang berlaku pada hari itu amatlah mengejutkan. Allah itu Maha Berkuasa kerana pada hari tersebut, najis tidak keluar daripada dubur mayat tadi tetapi melalui mulutnya. “Lain macam saja ni”, fikir saya. Lalu saya ubah sedikit teknik dan posisi mayat itu dan saya urut-urutkan lagi perutnya.

Tapi najis itu tetap keluar dari mulutnya. Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang berlaku di depan saya ini? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan najis. Saya harap ia tidak akan berulang lagi kerana saya mahu mengurut perutnya bagi kali yang terakhir. Tiba-tiba ketentuan Allah berlaku. Bila saya urut perutnya, keluarlah daripada mulut mayat itu najis bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat najis. Warnanya putih. Dari mana datangnya ulat itu, jangan tanya saya.

Allahyarham meninggal dunia akibat diserang sakit jantung dan waktu kematiannya dengan waktu saya menguruskan mayatnya cuma lima jam setengah sahaja jaraknya. Aneh, bagaimana dalam tempoh yang sebegitu singkat mayatnya boleh menjadi sedemikian rupa? Saya lihat wajah anak Allahyarham. Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat dan aib dengan apa yang berlaku pada bapa mereka.

Saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejutdan panik. Lalu saya bacakan doa untuk mengelakkan badi mayat dan sapukan ke muka mereka. Saya kata kepada mereka, “Inilah ujian Allah kepada kita”. Kemudian saya minta salah seorang daripada pembantu tadi memanggil kesemua anak Allahyarham.

Allahyarham pada dasarnya seorang yang beruntung kerana mempunyai tujuh orang anak, dan semuanya lelaki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di sini. Bila semua anak Allahyarham masuk, saya marahi mereka. Saya mengingatkan mereka bahawa tanggungjawab saya hanyalah membantu menguruskan jenazah bapa mereka, bukan menguruskan sepenuhnya tanggungjawab tersebut.

Sepatutnya sebagai anak, merekalah yang lebih afdal menguruskan jenazah bapa mereka itu, bukannya tok imam, tok bilal, tok siak. Saya kata, mungkin satu masa dahulu ibu mereka sibuk maka Allahyarham pernah memandikan mereka. Itulah jasa dan pengorbanan seorang bapa.

Tetapi saya kesal kerana dalam saat-saat begini anak-anak Allahyarham tidak langsung hendak membalas jasa bapa mereka itu.
Saya kemudiannya meminta izin serta bantuan mereka untuk menonggengkan mayat itu. Takdir Allah, apabila ditonggengkan sahaja mayat tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup. Hampir sebesen banyaknya.

Besen itu boleh dianggarkan besar sedikit daripada penutup bilah kipas meja. Subhanallah….suasana menjadi semakin panik. Saya terus bertenang dan berharap tidak berlaku lagi kejadian-kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu saya mandikan semula mayat tersebut dan saya ambilkan wuduk.

Saya minta anak-anaknya mengambil kain kafan. Saya bawa mayat tersebut ke dalam biliknya dan tidak diizinkan seorang pun melihat upacara itu kecuali waris yang terdekat, sebab saya takut perkara-perkara yang lebih aib akan berlaku.

Takdir Allah jua yang menentukan. Apabila mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu cukup-cukup memarasi hujung kepala dan kakinya, tidak ada lebih. Maka saya tak boleh nak ikat kepala dan kakinya. Tidak keterlaluan kalau saya katakan bahawa kain kafan itu seperti tidak mahu menerima mayat tadi.

Tidak apalah, mungkin saya yang silap semasa memotongnya. Lalu saya ambil baki kain, saya potongkan dan tampungkan di tempat-tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi tidak berapa elok, tetapi apa nak buat Itu sahaja yang boleh saya lakukan.

Pada masa yang sama saya berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jangan Kau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah sekadar peringatan kepada hambamu ini”. Selepas itu saya berikan taklimat tentang sembayang jenazah. Tiga kali taklimat diberikan. Yang hadir cuma 13 orang saja.

Selepas menyembahyangkan jenazah tadi, satu lagi masalah timbul. Jenazah itu tidak dapat dihantarkan ke tanah perkuburan kerana tidak ada kereta jenazah. Saya hubungi JAWI, JAIS, Pusat Islam, DBKL, Polis dan sebagainya, tetapi yang peliknya, mereka juga tidak mempunyai kereta jenazah kerana kereta yang ada sedang digunakan.

Dalam keadaan itu, seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk membolehkan dia mengeluarkan van dari garaj rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu di kawasan rumah Allahyarham, tiba-tiba isterinya keluar.

Dengan suara yang tegas dia berkata di khalayak ramai, “Abang, saya tak benarkan kereta saya ini digunakan untuk mengangkat jenazah itu sebab semasa hayatnya dia tidak pernah benarkan kita naik keretanya”. Renungkanlah, kalau tidak ada apa-apa sebab, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian.

Jadi saya suruh tuan punya van itu membawa vannya balik. Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya. Lelaki itu mendakwa dia adalah anak murid saya. Dia meminta izin daripada saya dalam 10-15 minit untuk membersihkan keretanya itu. Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu, muncul kereta tersebut. Tetapi dalam keadaan yang basah kuyup.

Kereta yang dimaksudkan itu sebenarnya adalah sebuah lori, dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam. Renungkanlah, pernahkan kita melihat satu jenazah dibawa ke kubur dengan lori ayam? Dalam perjalanan menuju ke kawasan perkuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya ahli masyarakat tidak payah membantu kami menguburkan jenazah tadi.

Saya suruh mereka pergi kubur saudara mara dan sahabat mereka, itu lebih baik. Saya tidak mahu mereka melihat apa-apa lagi peristiwa ganjil. Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi – takdir Allah yang terakhir amat memilukan. Bila sampai sahaja jenazah tersebut ke kuburnya, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke dalam liang lahad dan tiga lagi turunkan jenazah.

Takdir Allah, apabila jasad jenazah itu mencecah sahaja ke bumi, tiba tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah-celah bumi yang pada asalnya kering. Hari itu tidak hujan, tetapi dari mana datangnya air itu? Sukar untuk saya menjawabnya.

Lalu saya arahkan anak Allahyarham supaya sendaikan jenazah bapa mereka dengan kemas. Saya takut nanti ia akan terlangkup….na’uzubillah. Kalau mayat terlangkup, tidak ada harapan untuk mendapat syafaat Nabi saw.

Papan keranda diturunkan dan kami segera kambus kubur tersebut. Selepas itu kami injak-injakkan tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap. Tapi sungguh menyayukan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becak. Saya tahu, jenazah berkenaan ditenggelamkan oleh air hitam yang busuk itu. Melihatkan keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak Allahyarham supaya berhenti menginjakkan tanah itu. Tinggalkan dalam suku meter, timbus dan bataskan.

Ertinya kubur itu tidak dikambus hingga ke permukaan lubangnya, tetapi ia seperti kubur berlubang. Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak membacakan talkin, saya tengok tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air. Masya-Allah, dalam sejarah hidup saya, inilah julung-julung kalinya peristiwa seperti itu terjadi. Melihatkan keadaan itu, saya mengambil keputusan untuk menyelesaikan pengebumian secepat mungkin. Sejak sekian lama terlibat dalam pengurusan jenazah, inilah mayat yang saya tidak talkinkan.

Saya cuma bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setelah itu saya pulang ke rumah Allahyarham dan himpunkan keluarganya. Saya bertanya kepada isteri Allahyarham, apakah yang telah dilakukan oleh Allahyarham semasa hayatnya.

Adakah dia pernah menzalimi orang alim, mendapat harta secara merampas, menipu rasuah, memakan harta masjid dan anak yatim? Isteri allahyarham tidak dapat memberikan jawapan. Memikirkan mungkin dia malu untuk memberitahu, saya tinggalkan nombor telefon rumah saya. Tetapi sedihnya, sehingga sekarang tidak seorang pun anak-anak Allahyarham menghubungi saya.

Untuk pengetahuan umum, anak-anak Allahyarham merupakan orang-orang yang berpendidikan tinggi sehingga ada seorang yang beristerikan orang Amerika, seorang dapat isteri orang Australia dan seorang lagi isterinya orang Jepun. Saya bertambah sedih apabila dua orang yang membantu saya menguruskan jenazah tadi menelefon saya.

Mereka kata mereka menyesal membantu saya menguruskan jenazah Allahyarham kerana anak-anak Allahyarham telah menjadikan mereka sebagai musuh. Saya bertanya, adakah mereka menceritakan kisah itu kepada masyarakat? Mereka kata ‘TIDAK’. Peristiwa ini akan tetap saya ingat sampai bila-bila. Kepada masyarakat, tanyalah diri kita adakah kita mahu peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri, ibu bapa kita, anak kita atau kaum keluarga kita? Adakah kita mahu peristiwa ini berlaku berulang-ulang kali sehingga sampai satu masa nanti di mana masyarakat menganggap peristiwa ini sebagai perkara biasa?

Baca Lagi

Bolehkah Berkahwin Dengan Orang Bunian? – Datuk Dr Haron Din



Soalan: Ustaz, saya ingin bertanya perihal yang berkaitan dengan bunian. Perkara ini timbul dalam keluarga saya sendiri, iaitu mengenai adik perempuan saya yang berperangai agak aneh. Kami sekeluarga amat musykil apabila beliau menolak pinangan orang, sebaliknya mengaku sudah berkahwin dengan makhluk halus atau bunian.

1. Soalan saya, apakah perkahwinan antara manusia dengan jin boleh berlaku?
2. Apakah hukumnya perkahwinan tersebut, sah atau tidak dari sisi Islam?

Jawapan 1

Puan,

Perkahwinan dalam erti kata yang kita fahami hari ini, tidur bersama selepas perkahwinan yang sah, memang berlaku di antara manusia dengan manusia sahaja seperti yang disebut oleh Allah S.W.T dalam Surah ar-Rum, ayat 21 (mahfumnya): “Dan di antara tanda-tanda kebesaran Allah S.W.T, dijadikan bagi kamu (manusia) untuk pasanganmu dari jenis kamu juga (manusia), supaya kamu mendapat ketenangan dengannya dan dianugerahkan kepada kamu kasih sayang dan rahmat dari Allah S.w.T.”

Ayat ini menjelaskan bahawa pasangan hidup manusia dalam rumahtangga yang dirahmati Allah, adalah di antara manusia dengan manusia.

Mengenai dakwaan adik puan yang menyatakan bahawa dia telah berkahwin dengan jin. Pada saya hal ini memang boleh berlaku pada suatu kemungkinan (possibility).

Dalam sejarah sebagai contoh, berlaku kisah Puteri Balqis, Raja Perempuan di negeri Saba’ (Yaman). Ada pendapat yang mengatakan bahawa, salah seorang daripada ibu bapanya adalah jin. Sama ada bapanya jin, ibunya manusia atau sebaliknya.

Hal ini saya dapati ada tercatat dalam Tafsir al-Qurtubi, juzuk yang kesepuluh halaman 289, ketika membuat tafsiran kepada Surah al-Isra’ ayat 64, yang menyebut firman Allah bahawasanya jin akan berusaha keras memperdayakan manusia untuk menderhaka kepada Allah dengan berbagai-bagai cara.

Mereka menggunakan seni suara (nyanyian), tentera-tentera mereka digunakan, sehingga boleh bermusyarakah bersama untuk mendapatkan harta benda dan anak-anak milik bersama manusia hasil perkongsian dengan makhluk-makhluk halus ini. Disebut di antaranya, berlakulah perkahwinan tadi (ibu bapa Puteri Balqis).

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Aishah r.ha, Nabi pernah bersabda yang bermaksud, “Bahawasanya ada kalangan manusia ini yang akan menjadi mugharribeen, maka Aishah bertanya Nabi maksud mugharribuun itu? Maka Nabi bersabda yang bermaksud ialah mereka-mereka yang telah bermusyarakah dalam kehidupan rumahtangga dengan jin.”

Daripada rujukan ini menunjukkan bahawasanya ada kemungkinan manusia itu mengahwini jin sama seperti apa yang didakwakan. Kerana makhluk ini, seperti disebut dalam beberapa hadis, mereka boleh menyerupai dengan rupa-rupa yang diizinkan Allah kepada mereka menyerupainya. Tetapi dalam keadaan-keadaan yang amat sempit atau peluang yang mereka ada amat terhad, demi menjaga kemaslahatan anak Adam tidak terdedah dengan luas untuk ditanggung oleh makhluk-makhluk halus.

Penjelmaan mereka menjadi makhluk seperti manusia, disabitkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, iaitu kejadian pencurian harta zakat yang dikawal selia oleh Abu Hurairah, sehingga Abu Hurairah boleh menangkapnya dan dibawa kepada Rasulullah s.a.w untuk pendakwaan. Walaupun akhirnya jin tersebut dilepaskan tetapi Nabi telah menyatakan bahawasanya yang mencuri itu adalah syaitan.

Disabitkan juga bahawa penjelmaan jin itu wujud dalam bentuk yang jelas menyerupai manusia dalam peristiwa peperangan Badar seperti yang disebut dalam Surah al-Anfaal ayat 87 (mahfumnya):

“Dan ketika dihiasi oleh syaitan kepada mereka, tentera Islam dengan katanya kepada mereka, kamu tidak dikalahkan oleh musuhmu oleh manusia dan saya adalah jiran kepada kamu yang akan membantu dalam peperangan ini. Maka apabila kedua-dua kumpulan (Islam dengan Kafir Jahilliyah) bersemuka untuk peperangan yang berjanji untuk menolong mereka orang-orang kuffar itu telah cabut lari mengatakan saya tidak lagi boleh bersama-sama dengan kamu kerana saya dapat melihat apa yang kamu tidak boleh lihat dan saya sesungguhnya amat takut kepada Allah dan Allah itu amat dahsyat keseksaan-Nya”.

Ayat ini merujuk kepada adanya kepada satu makhluk yang menjelma sebagai manusia kununnya untuk membantu askar-askar musuh (kuffar) menentang Islam dan sabit bahawa makhluk itu bukan manusia, tetapi jelas mereka adalah syaitan.

Dengan demikian, jelaslah bahawasanya syaitan ini boleh menyerupai manusia dan dengan sendirinya boleh menjadi suami atau isteri kepada manusia.

Jawapan 2

Hukumnya adalah jelas, jumhurnya ulama sudah berijma’ bahawa hukumnya (mengahwini jin) tidak sah! Tidak boleh perkahwinan manusia dengan jin dilakukan. Melainkan ada seorang ulama yang bernama Qamuli yang menyatakan perkahwinan tersebut boleh.

Namun saya berpegang kepada pandangan jumhur ulama bahawa hukum perkahwinan tersebut adalah tidak sah, kerana ianya menyalahi dengan ayat Surah ar-Rum yang disebut di atas. Perkahwinan antara manusia dengan jin tidak akan melahirkan ketenangan, kebahagiaan ataupun mendapat rahmat Allah SWT.

Perkahwinan yang tidak sah pada hukum syarak tidak mungkin dirahmati Allah dan tidak mendapat restu Allah. Tidak mungkin kebahagian dan ketenangan berlaku! Kita dapat merasakan jika berlaku suatu krisis rumahtangga dengan mereka (golongan jin), bagaimana rumahtangga boleh aman daripada gangguan mereka?

Malahan anak-anak yang mungkin lahir dari hubungan itu, akan menjadikan masalah kepada manusia, mereka tidak boleh bergaul dalam alam manusia dengan sanak saudara. Jika berlaku pula masalah dengan anak-anak jiran, maka ianya akan mengundang berbagai kecelakaan. Nasihat saya kepada keluarga puan, hindarilah hal-hal ini daripada berlaku. 
Wallahu a’lam.

Baca Lagi

10 Kesalahan-kesalahan dalam Solat yang Tidak Kita Sedari



Solat merupakan antara kewajipan paling penting dalam kehidupan umat Islam. Nabi SAW diisrakkan ke langit untuk menerima perintah solat. Solatlah amalan pertama yang akan dihisab di akhirat kelak. Oleh yang demikian, marilah kita sama-sama baiki mutu solat kita. Maksud hadis:

"Amal seorang hamba yang pertama kali dihisab kelak ialah solat, jika solatnya rosak, maka amal lainnya pun akan rosak." [HR Thobrani]

Berikut merupakan kesalahan-kesalahan solat yang tidak kita sedari, berdasarkan hasil pembelajaran dan kajian saya selama ini. Semoga post kali ini memberi manfaat kepada kita, insya Allah...

1. Tidak berdiri lurus. 

Berdiri lurus bagi yang berkemampuan merupakan salah satu rukun solat. Apa yang diperhatikan, seseorang yang sakit tidak berdiri lurus semasa solat. Mereka terus duduk, tanpa berdiri lurus. Sewajibnya, mereka berdiri lurus dahulu, kemudian, barulah mereka boleh duduk. Ini adalah kerana mereka masih boleh berdiri dan berjalan! Macam mana mereka ke masjid sekiranya mereka tidak boleh berjalan? Perkara ini terkecuali sekerinya seseorang itu memang betul-betul tidak mampu untuk berdiri

2. Takbiratul Ihram dilafazkan dengan salah. 

Contohnya, bertakbir dengan lafaz ﭐﷲ di mulut, dan ﺃﻛﺒﺮ di dalam hati. Walhal, lafaz takbiratul ihram adalah RUKUN QAULI, maka, ia WAJIB dilafazkan 100% di mulut tanpa meninggalkan satu hurufpun dalam kalimah ﭐﷲ ﺃﻛﺒﺮ . Selain itu, sekiranya makhraj lafaz takbiratul ihram ini salah, maka ia boleh juga membatalkan solat. Contohnya, melafazkan takbiratul ihram dengan suara angin (seperti suara orang berbisik).

3. Terdapat kesalahan dalam al-Fatihah. 

Al-Fatihah merupakan RUKUN QAULI yang wajib dilafazkan 100% oleh mulut dengan makhraj dan tajwid yang betul. Sekiranya membaca al-Fatihah dalam hati atau menggunakan suara angin, maka, ia boleh membatalkan solat.

4. Tidak thomakninah (berhenti seketika) dalam rukuk dan sujud. 

Kadar minimum untuk rukuk dan sujud adalah dengan kadar lafaz "subhanallah". Maksud hadis:

"Seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri dalam solatnya." Sahabat bertanya, "Bagaimana caranya mencuri solat itu wahai Rasulullah?"

"Yaitu, yang tidak menyempurnakan rukuk, sujud dan bacaan di dalam solatnya" [HR Ahmad]

5. Sujud yang tidak sempurna, anggota sujud tidak dikenakan ke atas lantai. 

7 anggota sujud tersebut adalah: muka (termasuk dahi dan hidung); kedua tapak tangan; kedua lutut dan penghujung 2 tapak kaki (ibu jari), sebagaimana sabdanya yang bermaksud:

"Aku telah memerintahkan agar sujud keatas tujuh tulang: keatas dahi, dan beliau mengisyaratkan ke hidungnya, 2 tangan, 2 lutut dan pada penghujung 2 tapak kaki (ibu jari)." [Muttafaqun 'Alaih]

6. Lafaz tahiyyaat akhir yang salah. 

Perkara ini merupakan antara kesalahan yang amat biasa dilakukan tetapi ramai yang tidak menyedarinya. Lafaz tahiyyaat wajib disebut dengan makhraj yang betul kerana ia adalah rukun qauli. Sekiranya lafaz tahiyyat itu dilafazkan dengan suara angin juga, ia akan membatalkan solat. Namun begitu, amat sukar untuk diterangkan berkaitan lafaz tahiyyat akhir yang betul di dalam ruang yang terbatas ini. Sebaik-baiknya, rujuklah guru agama yang hak.

7. Lafaz salam dibaca dalam hati, dilafaz dengan suara angin, atau melafazkan salam dengan makhraj dan huruf yang salah juga boleh membatalkan solat.

 Lafaz yang tepat adalah ﭐﻟﺴﻼﻢﻋﻠﻴﻜﻢﻭﺭﺣﻤﺔﭐﷲ (assalaamu'alaikum warahmatullaah). Sekiranya menyebut "asalaamu'alaikum", "salaamu'alaikum", menukar huruf ﻉ kepada ﺃ, huruf ﺡkepada ﻫ, atau apa sahaja sebutan yang selain daripada ﭐﻟﺴﻼﻢﻋﻠﻴﻜﻢﻭﺭﺣﻤﺔﭐﷲ , ia akan membatalkan solat. Menyebut salam dalam hati juga boleh membatalkan solat, kerana lafaz salam pertama adalah rukun qauli, ia WAJIB dilafazkan 100% oleh mulut dengan makhraj dan tajwid yang betul.

8. Tangan berayun-ayun semasa i'tidal. 

Pergerakan anggota besar 3 kali berturut-turut boleh membatalkan solat. Tak tahulah kenapa orang suka sangat ayun tangan semasa i'tidal, yang macam buayan tu.

9. Tidak berhenti seketika, yakni i'tidal selepas rukuk.

10. Dada berpaling dari kiblat

Baca Lagi