Laman Kongsiadmin@lamankongsi.com

3 Golongan Manusia Dalam Surah Al-Fatihah

Sabtu, November 12, 2011

harith | Sabtu, November 12, 2011 |

Perintah Belajar Sejarah dalam Surat Al-Fatihah

Surat al-Fatihah merupakan surah pembuka dan juga surat awal didalam al-Qur'an. sebagai orang islam kita selalu mengulangi ayat ini didalam setiap rakaat sembahyang kita. cuba kita renung sejenak, pernahkah kita memahami maksud surah ini, apa cerita disebalik surah ini. itu 

Bermula dari doa seorang muslim setiap harinya:
"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. al-Fatihah [1] : 6)

Apakah yang dikatakan tunjukanlah kami jalan yang lurus, jalan yang lurus ialah:

"(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."

Ada tiga kelompok yang disebutkan dalam ayat terakhir ini;

1. Kelompok yang telah diberi nikmat oleh Allah
2. Kelompok yang dimurkai Allah
3. Kelompok yang sesat

Ketiga kelompok ini adalah generasi yang telah berlalu. Generasi di masa lalu yang telah mendapatkan satu dari ketiga hal tersebut.

Kelompok pertama, generasi yang merasakan nikmat Allah.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibnu Katsir 1/140, al-Maktabah al-Syamilah) menjelaskan bahwa kelompok ini dijelaskan dengan lebih mendalam dalam Surat an-Nisa: 69-70,

"Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, iaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang soleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. an-Nisa [4] : 69-70)

"Yang demikian itu adalah kurnia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui."

Ada kata penghubung yang sama antara ayat ini dengan ayat dalam al-Fatihah di atas iaitu mereka yang telah dianugerahi nikmat. Sehingga Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat dalam al-Fatihah tersebut dengan ayat ini.

Mereka adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada' dan para shalihin. Kesemua yang hadir dalam dalam doa kita, adalah mereka yang telah meninggal.

Ini adalah perintah tersirat pertama agar kita rajin melihat sejarah hidup mereka dan meneladani mereka. Agar kita mengetahui nikmat seperti apakah yang mereka rasakan sepanjang hidup. Agar kemudian kita dapat mengikuti jalan lurus yang pernah mereka tempuh sekaligus bisa merasakan nikmat yang telah mereka merasakan.

Perjalanan hidup mereka tercatat rapi dalam sejarah. Ukiran sejarah abadi mengenang, agar menjadi pelajaran bagi setiap pembacanya.

Kelompok kedua, mereka yang dimurkai Allah.
Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 1/141, al-Maktabah al-Syamilah) kembali menjelaskan bahwa mereka yang mendapat nikmat adalah mereka yang berhasil menggabungkan antara ilmu dan amal. Adapun kelompok yang dimurkai adalah kelompok yang mempunyai ilmu tetapi kehilangan amal. Sehingga mereka dimurkai.

Kelompok ini diwakili oleh Yahudi. Sejarah memang mencatat bahawa mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sekalipun mereka yakin bahawa Muhammad SAW adalah Nabi yang dijanjikan dalam kitab suci mereka akan hadir di akhir zaman.

"Demi Allah, sungguh telah jelas bagi kalian semua bahwa dia adalah Rasul yang di utus dan dialah yang sesungguhnya yang kalian jumpai dalam kitab kalian...." kalimat ini bukanlah kalimat seorang shahabat yang sedang berdakwah di hadapan Yahudi tetapi ini adalah pernyataan Ka'ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraidzah. Dia sedang membuka ruang dialog dengan masyarakatnya yang dikepung oleh 3.000 pasukan muslimin, untuk menentukan keputusan yang akan mereka ambil.

Maka benar, bahwa Yahudi telah memiliki ilmu yang matang, tetapi mereka tidak mahu mengikuti kebenaran tersebut. Inilah yang disebut oleh Surat al-Fatihah sebagai masyarakat yang dimurkai. Para ulama menjelaskan bahwa tidaklah kaum Bani Israil itu diberi nama Yahudi dalam al-Qur'an kecuali setelah menjadi masyarakat yang rosak.

Rangkaian doa kita setiap hari ini menyiratkan pentingnya belajar sejarah. Untuk bisa mengetahui dengan lebih mendalam bangsa dimurkai tersebut, bagaimana mereka, seperti apa kederhakaan mereka, ilmu apa saja yang mereka ketahui dan mereka tidak beramal dengannya.

Kelompok ketiga, mereka yang sesat.

Para ulama tafsir menjelaskan bahawa bahagian dari penafsirannya adalah masyarakat Nasrani. Masyarakat ini disebut sesat karena mereka memang tidak mempunyai ilmu. seperti orang yang hendak berjalan menuju suatu tempat tetapi tidak mempunyai maklumat tentang tempat yang hendak dituju. Pasti dia akan tersesat jalan.

Kelompok ketiga ini kehilangan ilmu walaupun mereka masih beramal.
Masyarakat ini mengikuti para pemimpin agamanya tanpa ilmu. mereka menghalalkan dan mengharamkan sesuatu.

Sebagaimana yang jelas tercantum dalam ayat:

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. at-Taubah [9] : 31)

Kisah' Adi bin Hatim berikut ini menjelaskan dan menguatkan ayat di atas,

Dari 'Adi bin Hatim radhiallahu anhu berkata: Aku mendatangi Nabi rasulullah walaihi wasallam dan di leherku ada salib terbuat dari emas, aku kemudian mendengar beliau membaca ayat: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.

Aku menyatakan: Ya Rasulullah sebenarnya mereka tidak menyembah rahib-rahib itu.Nabi menjawab: Benar. Tetapi para rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka itulah peribadatan kepada para rahib itu. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dihasankan oleh Syekh al-Albani)

Bagaimanakah mereka masyarakat nasrani menjalani kehidupan beragama mereka? Bagaimanakah mereka menjadikan pemimpin agama mereka menjadi perwakilan tuhan dalam erti kata lain boleh membuat syariat sendiri? Di manakah kesesatan mereka dan apa kesanya bagi umat Islam dan peradaban dunia?

Semuanya dicatat oleh sejarah.

Inilah doa yang selama ini kita mohonkan dalam jumlah yang paling sering dalam keseharian kita.

Al-Fatihah yang merupakan surat pertama. Bahkan surat pertama yang biasanya dihafal terlebih dahulu oleh masyarakat ini. Surat utama yang paling sering kita baca. Surat yang mengandung doa yang paling sering kita panjatkan.

Siratan perintah untuk belajar sejarah sangat kuat terlihat. Maka sangat penting kita memperhatikan kandungan surat yang paling akrab dengan kita ini.

Agar terbukti dengan baik dan benar doa kita;

"Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. al-Fatihah [1] : 6-7)
sumber